Langsung ke konten utama

Benarkah Hijrah Nabi Muhammad adalah sebuah pelarian ?

Islam selalu dipandang negatif oleh para sejarawan Barat. bagaimana barat memandang tentang sejarah hijrah Nabi Muhammad ? mereka mengatakan bahwa itu adalah sebuah pelarian. tentu saja ini tidak sesuai dengan apa yang selama ini orang muslim yakini,karena kebenarannya Nabi melakukan hijrah bukan karena pelarian.  Berikut adalah makalah tentng sudut pandang bahwa hijrah nabi adalah pelarian. penulis jelaskan bahwa penulis yidak setuju dengan pendapat ini.




KATA PENGANTAR
             Puji syukur tetap hanya milik Allah semata, begitupun shalawat berbingkai salam tiada yang berhak menjadi hilir kecuali baginda rasulullah SAW. Tanpa nikmat, hidayah, inayah serta iradah-Nya, mustahil penulis mampu menyelesaikan tugas makalah ini. Beberapa kalimat yang kami sumbangkan dari daya pikir yang lemah ini, terkumpullah kini menjadi satu makalah.
             Dalam hal apapun, makalah ini belum memenuhi kebenaran yang sempurna, bahkan nanti pembaca mungkin dengan mudah akan menemukan kesalahan. Itu semua murni karena ketidaktahuan serta keteledoran kami. Namun, dari segala kekurangan sudah kami saring menjadi seminimal mungkin, kamipun menaruh harapan yang begitu agung dalam penulisan makalah ini.
             Setidaknya, dalam penulisan makalah ini kami tidak mendasarkan pada pemikiran kami sendiri.ada banyak maraji’ yang kami petik, sehingga kami mengharap akan banyak manfaat yang dapat pembaca ambil dari makalah ini.
            Pada akhirnya, makalah ini kami persembahkan kepada orang tua kami yang telah merelakan darah juang kami dalam petualangan akademik, kepada khususnya Bapak Abdul Karim selaku dosen Sejarah Islam Periode Klasik yang memberi kami kesempatan untuk menyusun makalah ini, dan yang terakhir kepada teman-teman mahasiswa yang seperjuangan dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan agama. Semoga Allah memberkati makalah kami. Amin



PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
        Islam sebagai agama lahir dan berkembang pertama kali di Jazirah Arab. Agama yang dibawa oleh nabi Muhammad ini telah membawa perubahan yang besar dalam sejarah peradaban manusia. Sebagai rasul, Muhammad telah mendakwahkan agama islam kurang lebih 23 tahun, yang dibagi dalam dua periode, periode makkah dan madinah.
           Setelah Muhammad diangkat menjadi rasul, tidak sedikit kafir  quraisy yang memusuhi Muhammad, bahkan ada juga dari mereka yang berencana untuk membunuh beliau. Mereka melakukan konspirasi dan menyusun rencana untuk menghabisi Muhammad. Tidak selesai sampai di sini kafir quraisy juga menyiksa para muslimin,agar mereka mau meninggalkan agama Muhammad.
        Penyiksaan yang dilakukan kafir Quraisy terhadap para pengikut Muhammad, mendorong beliau untuk memerintahkan para muslimin agar melakukan hijrah ke daerah Yastrib atau yang lebih dikenal dengan nama Madinah pada zaman sekarang. Demi menghindari penyiksaan dari kafir Quraisy para muslimin berbondong-bondong melakukan hijrah menuju ke Madinah yang kemudian disusul oleh Muhammad bersama dengan Abu Bakar As-siddiq
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah hijrah nabi ke Madinah sebuah pelarian ?
2.      Bagaimana perjalanan hijrah nabi ?
C.    Tujuan Penulisan
        Mengacu pada rumusan masalah di atas, kami memiliki beberapa tujuan dalam penulisan makalah ini :
1.      Menjelaskan beberapa fakta yang menunjukkan bahwa hijrah nabi adalah sebuah pelarian.
2.      Menjabarkan tentang perjalanan hijrah nabi dari Makkah ke Madinah.
PEMBAHASAN
1.      Hijrah Nabi Sebagai Pelarian
A.    Perjanjian Aqabah I dan II
        Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah pada setiap musim haji mengunjungi kemah-kemah jamaah haji untuk menyampaikan dakwahnya. Aktivitas ini mendapat respon sebagaimana ditunjukkan oleh Suwain ibn Shamit, seorang tokoh Aus dari Yastrib, yang mengatakan tertarik pada ajakan Rasulullah. Selang beberapa lama setelah itu Iyas ibn Muadz seorang pemuda Khajraz juga menyatakan keislamannya ketika Rasulullah menemui rombongan kabilah Khajraz saat mereka datang ke Mekah. Aus dan Khajraz adalah dua kabilah Arab terkemuka di Yastrib yang selalu bermusuhan. Mereka sedikit banyak sudah memiliki pengertian mengenai ketuhanan,kenabian,wahyu,dah hari akhir.
        Pada musim haji tahun 11 setekah kanabian, beberapa orang Khajraz masuk islam. Sejak itu Rasulullah menjadi pembicaraan di kalangan penduduk Yastrib. Pada musim haji tahun berikunya 12 orang laki-laki dan seorang perempuan dari Yastrib menemui Rasulullah di Aqabah. Mereka berikrar tidak menyekutukan Tuhan, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak memfitnah, dan tidak mendurhakai Muhammad Saw. Peristiwa ini dikenal dengan Baiah al-Aqabah al-Ula. Setelah peristiwa ini Rasulullah mengutus Mus’ab ibn Umair mengajarkan islam pada penduduk Yastrib. Setahun kemudian seusai menunaikan ibadah haji, terjadi Baiah Aqabah kedua. 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan bertemu dengan Rasulullah didampingi Abbas al-Muthalib. Isi dari Baiah Aqabah II yaitu :
1.      Mendengar dan taat kepada Rasulullah
2.      Menginfakkan harta, baik keadaan sulit maupun mudah
3.      Memerintah pada kebaikan, mencegah kemungkaran
4.      Berdiri membela agama Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela
5.      Menolong dan melindungi Rasulullah sebagaimana melindungi kalian membela diri,istri dan anak-anak kalian
B.      Konspirasi Kaum Musyrikin ntuk Membunuh Nabi
           Setelah Baiah Aqabah II tindakan kekerasan terhadap muslimin makin meningkat,bahkan Quraisy sepakat akan membunuh Rasulullah. Menghadapi kenyataan ini Rasulullah menganjurkan para sahabatnya untuk segera pindah ke Yastrib. Kelompok orang-orang lemah diperintahkan berangkat lebih dulu,karena merekalah yang banyak menderita penganiyayaan dan paling sedikit memperileh perlindungan.
          Ketika orang-orang musyrik melihat para shahabat Rasulullah telah berkemas-kemas untuk berhijrah dengan membawa keturunan dan anak-anak mereka menuju ke perlindungan kaum Aua dan Kazraj di Madinah, terjadilah kegemparan di kalangan mereka yang menimbulkan kekhawatiran dan kegelisahan. 
          Bahaya nyata dan serius yang akan mengancam sendi-sendi ekonomi mereka telah menampakkan wujudnya di hadapan mereka. Mereka mengetahui dengan persis sosok Muhammad yang memiliki pengaruh yang besar sekaligus gaya kepemimpinan yang sempurna. Belum lagi kekuatan dan ketangguhan kaum Aus dan Kazraj yang memiliki naluri perdamaian dan keshalehan setelah bertahun-tahun mereka menelan pahitnya perang persaudaraan. Kaum musyrikin juga mengetahui letak strategis kota Madinah untuk lalu lintas jalur perdagangan dari arah Yaman.
          Kaum Musyrikin telah merasakan betapa seriusnya bahaya yang akan mengancam kelangsungan sendi kekuasaan mereka. Karenanya mereka membahas sarana yang efektif guna menghadang bahaya tersebut, yang sumber utamanya tidak lain adalah pemangku panji Islam, Muhammad.
          Pada hari Kamis, tanggal 26 Shafar tahun 14 kenabian atau bertepatan dengan September 622 M[1] yakni dua bulan setengah sejak berlangsungnya Darun Nadwah, mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan kabilah-kabilah Quraisy guna mempelajari langkah pasti untuk menghabisi pemangku dakwah Islam dan memutus aliran cahayanya, sehingga eksistensinya berakhir selama-lamanya. Diantaranya yang hadir adalah Abu Jahal bin Hisyam, Jubair bin Muth’im,Thu’aimah bin Adi, Al-Harits bin Amir, Sya’ibah bin Rabiah, Abu Sufyan bin Harb, An-Nadhr bin Al-Harits, Umayyah bin Khalaf, dll.
        Dalam pertemuan tersebut terdapat beberapa pendapat tentang cara, menghabisi nabi :
1.      Muhammad harus ditahan dan tidak diberi makan sampai mati
2.      Mengusir Muhammad dan setelah itu mereka tidak perlu memikirkan apakah ia hidup atau mati
3.      Sementara itu, Abu Jahal mengusulkan untuk mengambil satu pemuda terbaik dari tiap-tiap kabilahnya,lalu masing-masing diberi pedang, kemudian mereka bersama-sama menyerang Muhammad, sehingga keluarganya tidak bisa menuntut balas.
        Kaum Musyrikin ini akhirnya menyetujui apa yang diusulkan Abu Jahal dan mulai melakukan persiapan untuk menjalankan rencana tersebut.         Terakait konspirasi busuk tersebut, Allah berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat 30 yang artinya :
Dan ( ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.  (QS. Al-Anfal (8): 30)
C.     Pengepungan Rumah Rasulullah
        Para penjahat kafir Quraisy, menggunakan waktu siang mereka untuk mempersiapkan diri guna melaksanakan rencana yang telah digariskan berdasarkan kesepakatan Parlemen Makkah “Darun Nadwah” pada pagi harinya. Untuk eksekusi tersebut, mereka memilih sebelas orang pemuka mereka, yaitu : Abu Jahal bin Hisyam, Al-Hakam bin Abul Ashri , Uqbah bin Abul Ash, An-Nadhr bin Al-Harits, Umayyah bin Khalaf, Zam’ah bin Al-Aswad, Thu;aimah bin Adi, Abu Lahab, Ubay bin Khalaf, Nabih bin Al-Aswad, Munabbih bin Al-Hajjaj.
        Orang-orang Quraisy benar-benar yakin bahwa persekongkolan keji mereka kali ini akan membuahkan hasil. Hal ini cukup membuat Abu jahal berdiri tegak dengan penuh keangkuhan dan kesombongannya.
        Waktu suksesi persekongkolan tersebut adalah setelah pertengahan malam saat beliau biasa keluar dari rumah. Mereka melewati malam tersebut dengan berjaga-jaga selagi menunggu tengah malam. Namun Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Dialah yang Maha Melindungi.
D.     Rasulullah Meninggalkan Rumah
          Sekalipun orang-orang Quraisy melakukan persiapan  dengan begitu matang, tetap saja mereka mengalami kegagalan yang memalukan. Pada malam itu rasulullah berkata kepada Ali bin Abi Thalib “ tidurlah kamu di atas tempat tidurku, berselimutlah dengan mantel hijau milikku. Sesungguhnya kamu tetap aman dari gangguan mereka yang kamu khawatirkan “
Kemudian rasulullah keluar dari rumahnya dan menyibakkan barisan mereka. Sementara Ali tidur di ranjang beliau. Beliau memungut segenggam pasir, lalu menaburkannya ke atas kepala mereka,sehingga tidak dapat melihat beliau. Beliau membaca ayat yang artinya “Dan kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding pula dan Kami tutup mata mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat.”
          Kemudian beliau pergi ke rumah Abu Bakar. Keduanya pergi di tengah malam, hingga tiba di gua Tsur, ke arah Yaman. Sementara itu orang-orang Quraisy tetap menunggu hingga waktu yang tepat. Kesia-siaan dan kegagalan sudah nampak bagi mereka. Seorang laki-laki yang tidak ikut dalam pengepungan tersebut bertanya “ apa yang sedang kalian tunggu ?” Mereka menjawab “ Muhammad “
       “ kalian dikelabuhinya, dia telah pergi sambil menaburkan pasir di kepala kalian “
        “ sungguh, kami tidak melihatnya “ Mereka bangkit sambil membersihkan pasir dari kepala mereka.
          Lalu mereka mengintip dari celah pintu, dan mendapati sosok tertidur di sana. Mereka berkata “ Muhammad masih tidur berselimut mantelnya.”
Hingga pagi menjelang mereka mengepung sosok tersebut yang ternyata Ali. Mereka menanyakan di mana rasulullah. Ali menjawab “aku tidak tahu”[2]    
E.     Bersembunyi di Gua Tsaur
         Rasulullah meninggalkan rumah pada tanggal 27 Safar tahun ke-14 kenabian atau tanggal 13 September 622 M. Beliau menuju rumah sahabat setianya, Abu Bakar. Kemudian keduanya pergi melalui pintu belakang dengan tergesa-gesa karena khawatir fajar menyingsing.
        Rasulullah dari menyadari sepenuhnya bahwa orang-orang Quraisy tidak akan berdiam diri. Mereka pasti akan mengejar mereka mati-matian. Beliau mengetahui hanya jalur utama yang biasa ditempuh menuju Madinah yang mengarah ke utara. Untuk itu rasulullah mengambil jalur lain, yaitu dari selatan Makkah yang mengarah ke Yaman. Beliau menempuh jarak ini kurang lebih lima mil hingga tiba di sebuah gunung yang dikenal Gunung Tsaur Jalannya dipenuhi batu besar dan kasar. Beliau tidak mengenakan alas kaki, bahkan ada yang menuturkan beliau bertumpu pada ujung-ujung kaki agar tidak meninggalkan bekas telapak di tanah.
        Sesampainya di mulut gua, Abu Bakar berkata “Demi Allah, janganlah engkau masuk ke dalamnya, sebelum aku masuk terlebih dahulu, jika di dalam ada sesuatu yang tidak beres, biarlah aku yang terkena, asal tidak mengenai engkau.” Lalu Abu Bakar masuk dan membersihkan gua tersebut, Abu Bakar merobek pakaiannya  dan menjadikannya alas. Setelah dirasa aman dan bersih Abu Bakar berkata kepada rasulullah “masuklah”.
       Rasulullah pun memasuku gua tersebut, kemudian merebahkan badan dan meletakkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar dan tertidur. Saat itulah Abu Bakar merasa disengat hewan,namun tidak berani bergerak karena takut membangunkan beliau. Abu Bakar menahan sakit hingga meneteskan air mata dan jatuh menetes di wajah beliau
       Rasulullah bertanya” Apa yang terjadi padamu Abu Bakar ?”
Abu Bakar menjawab” Demi ayah dan ibuku yang menjadi jaminanmu,ada hewan menyengatku”.
Rasulullah kemudian  meludahi bagian tersebut hingga hilang rasa sakitnya.
        Sedang orang Quraisy seperti hilang akal,saat pagi hari mereka tidak mendapati rasulullah. Mereka lantas menangkap Ali, memukulinya serta  menyeretnya ke dekat Kakbah dengan harapan dapat mengorek keterangan tentang keberadaan rasulullah.
        Setelah mereka tidak mendapat info apaun dari Ali,mereka langsung mendatangi rumah Abu Bakar. Dengan penuh kemarahan dia mereka bertanya kepada Asma’ bin Abu Bakar
    “Di mana ayahmu “ ?
      Asma’ menjawab “ demi Allah, aku tidak tahu dimana ayahku “. Abu Jahal seketuka itu menampar Asma’ hingga anting-anting  terlepas dari telinganya.
         Melalui pertemuan singkat, orang-orang Quraisy memutuskan untuk menggunakan segala cara yang memungkinkan untuk menangkap rasulullah dan Abu Bakar. Mereka menutup setiap jalur kota Mekah menempatkan penjaga, dengan dibekali senjata lengkap.
         Sebenarnya ada di antara mereka yang sampai di mulut gua,tempat rasulullah bersembunyi. Mereka bekerumun,tapi Allah Maha Kuasa.di sini Allah sekali lagi turun tangan menyelamatkan nabiNya dengan membutakan mata para pengejarnya, padahal jarak mereka hanya sekejap mata memandang.Dalam sebuah hadis diriwayatkan, Abu Bakar berkata :aku bersama rasul di dalam gua , ketika mndongakkan kepala aku melihat beberapa pasang kaki kafir Quaisy, sehingga aku berkata “ Ya rasulullah andai mereka menundukkan kepala,pasti mereka melihat kita.” Beliau bersabda
“Diamlah hai Abu Bakar, kita berdua dan yang ketiga adalah Allah menyertai kita.”
         Mereka bersembunyi di gua tsur selama tiga hari. Tidak ada yang tahu tentang keadaan dan persembunyian mereka kecuali putera puteri Abu Bakar sendiri, Abdullah, Aisyah, Asma’ serta sahayanya Amir ibn Fuhairah. Merekalah yang mengirimkan makanan setiap malam dan menyampaikan kabar mengenai pergunjingan penduduk Mekah tentang rasulullah. Pada malam ketiga mereka keluar dari persembunyiannya untuk melanjutkan perjalanan ke Madinah ditemani oleh Abdillah ibn Abi Bakar dan Abdullah ibn Arqad, seorang musyrik yang bertugas sebagai penunjuk jalan.
2.      Perjalanan Hijrah Nabi
A.     Iming-iming Hadiah Bagi Yang Dapat Menemukan Muhammad
        Quraisy menyebarkan pengumuman di tempat yang biasa dijadikan ajang kumpul dan diskusi di kota Mekah bahwa barang siapa membawa Muhammad hidup atau mati, maka ia berhak mendapatkan seratus ekor unta. Berita ini menyebar ke seluruh kabilah Arab Baduwi  pinggiran kota Mekah.
        Salah seorang yang tertarik dan berambisi untuk mendapatkan hadiah yang dijanjikan Quraisy tersebut adalah Suraqah bin Malik bin Ju’tsum. Dia berusaha keras, mengerahkan seluruh upayanya untuk memperoleh hadiah tersebut.
B.     Pengejaran oleh Suraqah bin Malik Ju’tsum
       Perjalanan Rasulullah ternyata dibuntuti oleh Suraqah. Suraqah sendiri menuturkan bahwa dia melihat Rasulullah dan kemudian menyusulnya. Suraqah memacu kudanya dengan cepat, tetapi ketika jaraknya dekat dengan Rasulullah, tiba-tiba kudanya tergelincir sehingga dia terpental dan jatuh . Suraqah kemudian mengejar kembali rasulullah sampai mendengar apa yang diucapkan rasul. Belakang, Rasul tidak menoleh ke belakang, sedang Abu Bakar terus menoleh ke belakang.
       Ketika Suraqah sudah dekat, lagi-lagi kudanya terperosok hingga kakinya masuk ke dalam pasir. Terpaksa Suraqah menyeru rasul bahwa dia tidak akan menyakitinya. Suraqah berkata paa nabi “kaummu telah menyiapkan hadiah atas penangkapan kalian”. Suraqah juga menerangkan apa yang selama ini dilakukan orang-orang yang memburu rasulullah.suraqah bahkan menawarkan perbekalan dan hartanya pada nabi, namun nabi hanya berkata “ rahasiakan perjalanan kami. “
        Suraqah kembali dan menyaksikan orang-orang masih mencari nabi, lalu dia berkata “ Tidak ada kabar yang bias kuberikan pada kalian. Berhentilah, itu lebih baik bagi kalian. Demikianlah Suraqah, di pagi hari dia bersungguh-sungguh ingin menangkap Rasulullah, tetapi di sore harinya, dia berbalik melimdungi Rasulullah.
C.     Singgah di Quba
         Hari Senin 8 Rabiul awal tahun ke-14 kenabian, atau pada tahun pertama hijriah bertepatan pada tanggal 23 September 622, Raulullah tiba di Quba, sekitar 10 kilometer dari kota Yastrib. Selama di Quba beliau menginap di rumah Kultsum ibn Hadam, seorang laki-laki tua yang rumahnya biasa dijadikan pangkalan bagi orang-orang yang baru datang ke Yastrib. Rasulullah di Quba selama empat hari. Di sana beliau membangun Masjid Quba dan menunaikan shalat disana. Masjid itulah yang menjadi masjid pertama yang dibangun atas dasar ketakwaan setelah nubuat.
D.    Memasuki Kota Madinah
       Kedatangan Rasulullah disambut hangat penuh kerinduan oleh kaum Anshar. Begitu tiba di kota ini beliau melepaskan tali kekang unta yang ditungganginya, dan membiarkan unta itu berjalan sekehandaknya. Unta itu baru berhenti di sebidang kebun yang ditumbuhi bebrapa pohon kurma, bersebelahan  dengan rumah Abu Ayyub. Kebun ini milik dua anak yatim bersaudara yang diasuh oleh Abu Ayyub bernama Sahl dan Suhail. Kebun ini kemudian dijual dan diatasnya dibangun masjid atas erintah Rasulullah. Sejak kedatangan Rasulullah, Yastrib berubah namanya menjadi Madinah al-Rasul atau Madinah al-Munawwarah.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
        Meski dapat dikatakan, bahwa faktor utama hijrah Muhammad ke Yastrib bukan semata-mata pelarian atas siksaan kaum Quraisy, akan tetapi juga memenuhi undangan penduduk Yastrib untuk datang ke sana sebagai pendamai[3].  Namun tetap saja terdapat juga unsur pelarian dalam hijrah nabi, hal ini dapat kita lihat dari peristiwa persembunyian nabi di Gua Tsur bersama dengan Abu Bakar. Di mana nabi dan Abu Bakar harus menghindar dari pengejaran kafir Quraisy.
       Unsur pelarian lainnya juga bisa kita lihat saat nabi telah keluar dari Gua Tsur, namun tetap harus menghindari perburuan daripada orang-orang yang mendapat iming-iming hadiah dari kafir Quraisy jika dapat menangkap nabi hidup ataupun mati. Namun terlepas dari semua itu nabi tetap melakukan hijrah juga atas perintah dari Allah SWT.
B.     Saran
     Penulis menyadari bahwa makalah dengan bebrapa buku rujukan , mungkin masih terdapat kekurangan,dan kekurangbenaran. Oleh karena itu kritik para pembaca, pengoreksi serta pemerhati sangat penulis tunggu dalam rangka menopang kekurangan dalam daya pikir ini.





DAFTAR PUSTAKA
Al-Mishri,Abu Abdurrahman.Terj:Kamran As’as Irsyadi. Air Mata Nabi.Jakarta: Amzah,2008.
Al-Mubarakfuri,Syaikh Shafyyurahman. Ar-Rahiq Al-Makhtum. Jakarta: Ummul Qura, 2011.
Karim, M. Abdul. Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Bagaskara,2014.
Katsir,Al-Hafidz.Terj:Abu Ihsan al-Atsari. Sirah Nabi Muhammad .Jakarta : Pustaka Imam Syafii,2010.
Sodiqin, Ali, Dkk. Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: Lesfi,2012.


[1] Muhammad Sulaiman Al-Manshurfuri,Rahmatan lil ‘Alamin, Jilid I, hlm.97
[2] Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Bakar, Zadul Ma’ad,  1928, hlm.52
[3][3] Karim, M.Abdul, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, Yogyakarta:Bagaskara,2014.hlm 67


 

Komentar